CFC Stories (Finale) : Don’t Go

C for Clarity

.

Other stories of this oneshot series:

||  Shoes  ||  Exordium  ||  In The Pouring Rain  ||  Let Out the Beast  ||

||  Heart Attack  ||  Baby Don’t Cry  ||  Peter Pan  ||

.

-o-

Akan ada yang terluka.

Ada yang sakit hati. Ada yang harus mengalah.

Ada yang harus pergi.

-o-

 .

.

Katakan. Katakan jangan pergi.

Katakan Kai, katakan kau tidak ingin aku pergi bersamanya.

 .

Mereka berpandangan selama entah berapa lama, hingga pertanyaan itu meluncur dari bibir Jongin.

“Kau masih mencintainya?”

 .

Minji kehilangan kata. Matanya mulai memanas.

Jongin menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Minji artikan, lalu lelaki itu berdiri, dan berbalik memunggunginya.

 .

***

 .

“Menikahlah denganku.”

Jika ada satu kalimat yang ditunggu oleh Minji selama bertahun-tahun yang lalu, maka itu adalah kalimat yang barusan didengarnya meluncur dari mulut Lee Donghae.

Dulu Minji sering membayangkan, jika suatu saat cinta pertamanya itu akan entah bagaimana tiba-tiba melamarnya dengan tatapan teduh dan senyuman hangatnya. Dulu gadis itu membayangkannya hingga ia berguling-guling di kasur, hingga terbawa mimpi, hingga separuh gila, karena senyum-senyum sendiri sepanjang hari.

 .

Namun kini, ketika semua khayalannya menjelma nyata di hadapannya, Minji gamang. Hatinya bimbang.

Sepanjang apapun lelaki itu tadi menjelaskan seluruhnya padanya, Minji masih tercengang.

 .

Kenapa Lee Donghae baru datang padanya sekarang? Kenapa? Kenapa lelaki itu terlambat menyadari perasaannya sendiri? Seandainya waktu itu Donghae tidak pergi, mungkin Minji akan dengan senang hati langsung menerimanya. Tapi kini berbeda. Semua tak lagi sama.

Kenapa lelaki itu datang kembali, lalu mengobrak-abrik perasaan yang sudah lama terkubur dalam-dalam itu? Kenapa?

Dulu, Minji memang merasa bahwa cintanya seutuhnya untuk Donghae. Tapi kini …

 .

“Tidak perlu kau jawab sekarang. Pikirkan baik-baik, Minji~ya. Aku tahu ini permintaan yang berat. Terutama setelah waktu itu aku dengan bodohnya meninggalkanmu. Semoga permintaan ini belum terlambat. Karena aku tidak ingin kehilanganmu.”

 .

Dalam hubungan percintaan yang melibatkan lebih dari dua insan,

Pasti akan ada yang kehilangan.

 .

 .

***

 .

 .

“Dia melamarku dan mengajakku pergi bersamanya.”

Minji berusaha keras untuk menghindari tatapan tajam dari lelaki di hadapannya ini. Namun, entah bagaimana pandangannya terkunci pada sepasang mata hitam itu.

Gadis itu akhirnya hanya sanggup menekan-nekan jemarinya sendiri dengan cemas di bawah meja dan memohon dalam hati.

 .

Katakan. Katakan jangan pergi.

Katakan Kai, katakan kau tidak ingin aku pergi bersamanya.

 .

Mereka berpandangan selama entah berapa lama, hingga akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Jongin.

“Kau masih mencintainya?”

 .

Minji mencelos. Mendadak kehilangan kata. Matanya mulai memanas.

Kau tahu apa jawabanku, Kai.

Gadis itu membisu, lidahnya kelu.

 .

Jongin menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Minji artikan, lalu lelaki itu berdiri, dan berbalik memunggunginya.

.

Sebulir airmata menetes di pipi gadis itu. Mereka sama-sama diam dalam keheningan malam. Sebelum akhirnya Minji memutuskan untuk bangkit berdiri, karena ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi ini. Kepalanya pening.

“Kalau begitu, aku pamit.”

 .

Jongin tidak menoleh. Minji menelan ludah.

Apakah kau merelakanku begitu saja, Kai?

 .

“Baiklah, Kai. Sampai jumpa.”

Jongin masih tidak menoleh.

 .

Minji pun beranjak dari tempatnya semula, beranjak pergi dengan sekujur tubuh lemas, seolah saraf-sarafnya telah ditarik lepas.

Namun tepat ketika ia melintasi Jongin, sebuah tangan menahannya. Sebuah lengan mendekapnya dari belakang, menariknya ke dalam sebuah pelukan.

 .

Kim Jongin tidak berkata apa-apa. Hanya terus memeluknya seperti itu selama beberapa waktu, hingga kemudian lelaki itu melepasnya.

 .

“Pergilah jika kau ingin pergi. Aku tidak akan menahanmu.”

 .

 .

***

.

 .

Mengapa kau melepasku, Kai? Mengapa kau merelakanku begitu saja? Apakah akhirnya kau menyerah?

Minji melamun sepanjang jalan hingga tiba-tiba tanpa sadar dia sudah sampai di depan halaman rumahnya. Dan seketika langkahnya terhenti saat ia melihat lelaki itu berdiri di depan pintu rumahnya. Di hadapannya.

 .

Ada apa sebenarnya dengan hari ini? Belum cukup ia dipusingkan oleh pertemuan dengan Lee Donghae, lalu dengan Kim Jongin, yang membuat hatinya porak poranda. Kini ia masih harus berhadapan dengan lelaki yang dibencinya.

Oh Sehun.

 .

Minji baru saja berbalik dan melangkah pergi ketika didengarnya lelaki itu berkata di belakangnya.

“Kau tidak perlu pergi, Minji. Aku yang akan pergi. Aku tahu kau tidak ingin menemuiku lagi. Jadi, aku yang akan menghilang dari hadapanmu, tidak akan mengganggumu lagi. Namun, sebelum itu, aku ingin menyampaikan beberapa hal padamu.”

 .

“Aku tidak butuh penjelasanmu.” Minji melangkah lagi. Meski dia tidak tahu mau kemana malam-malam begini. Kemanapun, asalkan tidak perlu mengobrol berdua dengan lelaki ini.

“Dengarkan aku dulu.”

 .

“Pergilah, Sehun.” Minji dapat merasakan Sehun mengikutinya di belakang. Namun ia bersyukur karena lelaki itu sepertinya menjaga jarak.

“Tolong dengarkan dulu, Minji. Sekali ini saja. Lalu aku tidak akan menganggu hidupmu lagi. Aku akan menjauh dari kalian. Aku akan menjauh, sampai kalian memaafkanku.”

 .

“Pergi—”

“Aku menyukaimu.”

 .

Langkah Minji terhenti.

…A-apa?

 .

“Aku sungguh-sungguh menyukaimu. Sejak dulu. Sejak pertama kali aku mengenalmu.”

 .

Minji masih tertegun.

Sehun melanjutkan, “Namun, dari dulu aku memendam semuanya karena aku tahu Jongin mencintaimu. Dia sahabatku. Aku menyayangi kalian berdua sama besarnya. Kebodohanku adalah terbutakan oleh perasaanku sendiri malam itu. Karena malam itu akal sehatku dikalahkan oleh keinginan kuat untuk memilikimu.”

 .

Minji tetap membisu. Tetap memunggungi Sehun. Tidak sudi berbalik. Tidak sudi melihat mukanya.

“Aku tidak akan bosan meminta maaf padamu, Minji. Aku benar-benar khilaf. Aku juga tidak ingin persahabatan kita jadi hancur seperti ini. Aku tahu kau mencintai Jongin. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku melakukannya karena aku—”

 .

“Kalau kau memang menyukaiku, kau tidak akan melakukannya. Kalau kau memang menyayangiku, kau tidak akan menyakitiku, apalagi kau memanfaatkan waktu ketika aku tidak sadarkan diri. Demi Tuhan, Oh Sehun.”

 .

Sehun terdiam. Dia tidak bisa melihat muka Minji, namun hatinya teriris ngilu mendengar getaran pada suara gadis itu. Menandakan betapa kecewanya Minji padanya.

Sehun menelan ludah.

“Aku tahu, Minji. Maka dari itu, dari dulu aku tidak pernah mengutarakan perasaanku. Aku tahu aku tidak pantas untukmu,” Suara Sehun seperti pecah ketika mengatakannya. Mati-matian berusaha berkata dengan kerongkongannya yang mengering. Perih.

“Jongin lah orang yang paling pantas bersamamu. Karena dia tidak pernah dan tidak akan pernah menyakitimu.”

 .

Hening meliputi mereka berdua.

“Aku akan menjauh dari kalian berdua.” Sehun mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. “Namun, jika suatu saat nanti kalian merindukanku dan akhirnya memaafkanku, kalian tahu kemana harus mencariku. Aku akan tetap di situ, menunggu hingga saat itu tiba.”

 .

Minji masih bertahan di tempatnya. Tidak tergerak sedikit pun untuk menoleh.

Hening lagi selang beberapa lama, hingga Minji mengira Sehun sudah menghilang, ketika didengarnya lelaki itu menyampaikan pesan terakhirnya.

 .

“Aku tahu Donghae hyung kembali ke sini. Tidak peduli sedekat apa aku dengan Donghae hyung, dan seberapa besar kau pernah mencintainya …

namun sebagai sahabatmu – aku tidak tahu apa kau masih menganggapku sahabatmu atau tidak – aku hanya ingin menyampaikan …

dari seluruh lelaki di dunia ini, kalau ada lelaki yang paling pantas mendapatkanmu, maka orang itu adalah Kim Jongin.

 .

.

***

 .

 .

“Lalu aku harus bagaimana?”

Minji melingkarkan kedua lengannya pada lengan lelaki di sebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak lelaki itu. Kepalanya serasa berat, meski tak seberat hatinya yang kacau balau saat ini.

 .

Alih-alih menjawab, Lee Taemin menyodorkan sesuap es krim ke gadis yang sedang memeluk lengannya dan bersandar lesu di pundaknya itu. Siang itu matahari bersinar dengan terik, satu cup es krim bisa melumerkan hati siapapun.

Minji ragu-ragu, dia sedang tidak mood untuk memasukkan apapun ke dalam perutnya. Namun, akhirnya ia melahapnya juga.

Taemin tersenyum. Tahu dengan pasti bahwa gadis itu tidak bisa menolak es krim kesukaannya.

 .

“Bukankah kau memang mencintai Lee Donghae? Lalu apa masalahnya? Bukankah bagus jika ia akhirnya sadar dan melamarmu?”

Taemin mencoba memancing Minji, sambil menyuap sesendok es krim ke mulutnya sendiri.

 .

Minji menggigit bibir. “Tapi…”

Taemin tersenyum. Nah, ini dia. Ini dia. Ayo katakan, Minji.

 .

Gadis itu menghela napas. “Debaran ketika aku berhadapan Donghae Oppa masih ada. Debaran itu masih sama seperti dulu. Aku tidak bisa bilang aku sudah melupakannya. Tapi … aku juga tidak bisa meninggalkan Kai. Aku … aku …”

Taemin bertanya dengan perlahan, dengan sabar menuntun gadis itu untuk mengucapkan jawaban yang ia yakin sudah tersedia di dalam hati gadis itu. “Iya? Jadi … kau … ?”

 .

Minji membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun tidak ada kata yang bisa keluar, membuat gadis itu mengatupkan mulutnya. Kemudian membukanya lagi, lalu mengatupkannya kembali.

Aiishh~ Tak tahu lah!” Minji berseru frustasi, kedua tangan gadis itu mengacak rambutnya sendiri.

Lalu gadis itu memalingkan wajahnya menghadap Taemin, memasang tampang memelas. “Tidak bisakah aku memilih dua-duanya saja?”

 .

YA~! Tentu saja tidak bisa! Masa nanti kau mau menikahi dua-duanya? Pilih salah satu!” Taemin menyemburkan tawanya, sambil menyentil dahi gadis itu. Geli mendapati sahabatnya ini sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini.

 .

Minji mengerucutkan bibirnya. “Ya sudah, tidak usah dua-duanya. Aku denganmu saja ya.” Minji kembali memeluk lengan sahabatnya itu sambil bersandar lagi di bahunya.

Taemin terbahak mendengar candaan Minji dan mengacak-acak rambut gadis itu. “Gadis gila.”

 .

Mereka duduk diam sambil menggoyang-goyangkan kaki selama beberapa saat, hingga tiba-tiba Minji angkat bicara. Melontarkan sesuatu yang sejak semalam mengganjal hatinya. Membuatnya resah.

“Dia merelakanku pergi begitu saja.”

 .

Tanpa gadis itu sebut pun, Taemin paham siapa “dia” yang dimaksud Minji.

Lelaki itu tertawa, kembali menyentil dahi Minji. “Kau pikir dia merelakanmu begitu saja? Memangnya selama ini dia pernah meninggalkanmu? Dia bahkan tidak pernah pergi, Minji. Dia sudah melakukan segalanya untukmu.”

“Sekarang keputusan dia serahkan ke tanganmu. Dia tidak ingin menahanmu justru karena ia membiarkan dirimu memilih. Dia tidak mau kau terpaksa tinggal karenanya.”

 .

-o-

If you love somebody, let them go,

for if they return, they were always yours.

If they don’t, they never were.

-o-

 .

Kini Taemin memasang muka serius, menghadap Minji.

“Dengarkan aku.”

Dipegangnya kedua bahu Minji, ditatapnya gadis itu dengan serius. Taemin tidak ingin sahabatnya ini salah langkah kemudian menyesal di kemudian hari.

“Aku bahkan sudah bisa melihat jawabannya di kedua matamu, Minji~ya. Kau sudah tahu apa jawabanmu sendiri.”

 .

Minji tertegun. “Sungguh?”

Taemin mengangguk dengan pasti. Ia menunjuk hati Minji.

“Kau tahu, ada banyak jenis perasaan suka, sayang, kagum, dan cinta. Kau mungkin memang mencintai dua-duanya. Namun, aku yakin jenis perasaanmu pada mereka berdua berbeda.  Kadar perasaanmu untuk mereka juga berbeda. Dalam lubuk hatimu kau tahu itu, Minji.”

 .

Minji terdiam menatap kedua manik cemerlang di hadapannya.

Lelaki di hadapannya itu mengatakannya dengan raut serius. Tak ada nada bercanda atau meledek yang biasanya lelaki itu iseng lontarkan untuk mengerjainya.

“Jika kau masih bimbang. Pilihlah lelaki yang tanpanya, kau mungkin bisa hidup, tapi hidupmu hampa. Yang tanpanya, ada yang kurang dalam hidupmu. Yang tanpanya, hidupmu tidak lengkap.”

 .

Minji tertegun. Sama sekali tidak menyangka sahabatnya bisa melantunkan kalimat semacam itu.

“Pilihlah lelaki yang membuatmu merasa utuh.”

 .

Lelaki yang tanpanya, hidupmu terasa tak lengkap. Lelaki yang membuatmu merasa utuh.

 .

Lalu tiba-tiba Taemin melepas pegangannya dari pundak Minji, kembali menyendok es krim dengan imut, dan menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil. Kembali menjadi Taemin yang biasanya.

Membuat Minji terkesima memandangnya.

Yang tadi itu benar-benar Lee Taemin, kan?

 .

Minji masih memandang sahabatnya itu dengan terharu selama beberapa saat, sebelum akhirnya gadis itu sanggup membuka mulut.

“Taeminnie…”

Hm?

“Terima kasih.”

 .

Taemin tersenyum hingga matanya menyipit, merangkulnya, menawarkan sesuap sendok es krim ke mulut Minji yang langsung disambut gadis itu dengan gembira.

“Itulah gunanya sahabat, bukan?”

 .

Sahabat seperti Lee Taemin, es krim, dan kelegaan hati.

Minji tersenyum dan bersyukur dalam hati.

 .

Tidak ada yang lebih baik dari ini.

 .

 .

***

 .

.

 

Minji berdiri berhadap-hadapan dengan Lee Donghae. Lelaki yang selama ini digilainya. Lelaki yang diidolakannya. Yang membawanya bertualang dan selalu menenangkan hatinya. Lelaki yang selamanya akan menjadi Peter Pan baginya.

.

Ajaib. Tak lekang oleh waktu.

 .

Selamanya Lee Donghae akan menjadi pujaannya. Sampai detik ini Minji masih mengaguminya. Alisnya, matanya, wajahnya, senyumnya. Semuanya. Ketika berbicara dengannya pun Minji masih merasakan debaran itu. Debaran kekaguman pada lelaki ini.

 .

Mereka berbicara lama, selama beberapa waktu, dengan serius. Hingga akhirnya seulas senyum tulus menghias muka Lee Donghae. Lelaki itu memeluknya erat-erat dan mengecup puncak kepalanya.

Ah~ aku sudah dapat menebaknya. Meski begitu kenapa hatiku terasa sangat nyeri, ya? Kau membuatku patah hati, Minji~ya.”

Lee Donghae masih belum melepaskan pelukannya, berkata seperti itu dengan pancaran mata yang sedih, bibir yang melengkung ke bawah, dan mimik muka menggemaskan, yang membuat Minji entah bagaimana malah jadi merasa berkali-kali lipat bersalah.

Oppaaa~ jangan begitu. Oppa membuatku lebih dari patah hati.”

 .

Lelaki itu tertawa mempererat dekapannya hingga Minji hampir terangkat berputar di udara. Lalu dipandangnya gadis itu lekat-lekat dan menghela napas panjang.

“Baiklah, kurasa aku sudah tidak mungkin bisa memaksamu. Jadi, selamat tinggal? Ah~ bukan bukan…” Donghae meralat ucapannya sendiri. “Sampai jumpa lagi?”

 .

Minji tersenyum. Lelaki itu tidak ingin dilupakan. Seperti perkataannya dulu kepada Minji ketika ia pamit.

 .

Never say goodbye because goodbye means going away

and going away means forgetting.

 .

“Sampai jumpa, Oppa.

Aku tidak akan melupakanmu. Kau akan punya ruang khusus di hatiku.

Selamanya.

 .

Minji sudah berbalik dan berjalan beberapa langkah, hingga didengarnya suara Donghae memanggilnya.

“Minji~ya.”

Minji menoleh.

 .

Donghae mengangkat tangannya, memberi kode dengan menggoyangkan jempol di telinga dan kelingking di mulutnya, seolah tangannya adalah telepon.

“Hubungi aku jika suatu saat nanti kau berubah pikiran!”

 .

Gadis itu tertawa hingga kepalanya tersentak ke belakang.

Oppaaa!”

 .

“Iya, iya. Aku bercanda!”

Lee Donghae menghela napas lega melihat tawa renyah itu. Lelaki itu tersenyum lembut.

Terbayang olehnya gadis kecil yang menangis tergugu ketika dulu mereka bertemu. Gadis kecil yang ketakutan dan butuh perlindungan, yang ingin sekali dipeluknya. Gadis yang ketika ia bertemu lagi dengannya, masih gadis yang sama. Gadis pembenci hujan yang sangat disayanginya. Gadis yang selalu menemaninya berpetualang.

Gadis yang cintanya terlambat disadarinya.

 .

Gadis yang renyah tawanya selalu berhasil menyusupkan perasaan hangat yang menjalar hingga ke rongga dadanya. Mengobati hatinya yang sedang lara, yang dipenuhi rasa sesak yang menyakitkan.

 .

Tertawalah terus seperti itu, Minji~ya.

Berbahagialah dengannya.

 .

Sometimes, we just have to let them go.

 .

.

***

 .

 .

“Kenapa akhirnya kau tidak jadi pergi bersamanya?”

“Memangnya kapan aku bilang aku akan pergi bersamanya?”

 .

Pandangan Minji masih lurus ke depan, pada serial kartun yang entah sudah berapa kali dilihatnya di layar televisi, bersama lelaki yang sedang berbaring di sofa, dengan kepala lelaki itu di pangkuannya. Tangan minji secara otomatis bergerak pelan menyisiri rambut lelaki itu, merasakan helai-helai rambut hitam halus itu berdesir di antara jemarinya.

Kebiasaan rutin mereka sejak dulu.

 .

“Aku kan tidak pernah melarangmu pergi.”

“Tanpa kau larang pun, aku memang sudah memutuskan untuk tidak pergi.”

 .

“Lalu, apa alasan kau memilih tidak pergi dengannya?”

Mendengar nada menuntut yang khas itu, Minji mengulum senyum, berusaha keras untuk tidak terkikik geli. Jari-jarinya berhenti menyisiri rambut hitam lelaki itu. Diangkat dan disingkirkannya kepala lelaki itu dari pangkuannya.

“Pertanyaanmu berputar-putar, Kai. Sudah ah, aku lapar.”

 .

Minji bangkit menuju dapur, meninggalkan Jongin yang cemberut di belakangnya. Lelaki itu akhirnya ikut bangkit dari sofa dan mengekor di belakangnya. Raut mukanya menunjukkan ketidakpuasan. Minji selalu menghindar setiap ditanya tentang perasaannya. Ini membuat Jongin gemas setengah mati.

Jongin butuh jawaban. Butuh pengakuan.

 .

Sial. Aku kehabisan persediaan makanan. Kai, pesankan delivery di depot langganan kita, please. Sebelum aku mati kelaparan sebentar lagi.”

Pinta gadis itu tanpa menoleh, separuh badannya masih tersembunyi di balik kulkas, mengais apapun yang bisa mengganjal perutnya yang bernyanyi keroncongan.

 .

Minji akhirnya menemukan setoples selai cokelat. Gadis itu membuka tutupnya, mulai menyendok selai ke mulutnya sendiri, dan menikmatinya. Baru saja dirinya akan menyuap sesendok lagi, ketika tiba-tiba sepasang lengan menangkap pinggangnya, tubuhnya terangkat dan sukses terduduk di atas buffet dapur.

 .

Yaaa~! Apa yang kaulakukan, hah?

Minji melototi Jongin yang mukanya kini sejajar di hadapannya. Kedua lengan Jongin tetap melingkari pinggang gadis itu. Mengepungnya.

 .

Kini, Kim Jongin mendapat perhatian penuh.

 .

Lelaki itu nyengir lebar, memamerkan seringai khasnya. “Aku tahu sesuatu yang lebih baik dari delivery service,” bisiknya sambil mencodongkan tubuh. Sebelah matanya mengedip menggoda.

 .

Rona merah seketika menjalari pipi Minji. Jantungnya seakan melonjak dari tempatnya. Diacung-acungkannya sendok berlumur cokelat di depan muka Jongin seperti pedang, sebagai senjata perlindungan.

“Kim Jongin! Jangan main-main!”

 .

Jongin berkelit, menangkap sendok itu dengan mulutnya, lalu mengulumnya.

Mmm! Enak.”

 .

Sial. Sial. Sial.

Jantung Minji makin kebat-kebit tak keruan dan kedua tangannya mulai mendorong kedua bahu Jongin jauh-jauh sekuat tenaga.

Yaaaa~! Yaaa~!

Namun Jongin tetap meringsek maju.

 .

Kedua lengan gadis itu kini terangkat di antara dirinya dan Jongin untuk ia jadikan tameng perlindungan. Satu tangan masih menggenggam toples kecil, satu lagi masih menggenggam sendok yang kini bahkan sudah berada di depan hidungnya sendiri untuk menghalangi muka Jongin yang mendekat.

 .

Jongin menyingkirkan sendok itu.

 .

Minji kini memejamkan mata rapat-rapat, sementara jantungnya serasa melompat dari tempatnya, kemudian gadis itu merasakan …

Sebuah kecupan hangat mendarat di ujung hidungnya.

Membuatnya tergelitik geli.

Lalu sebuah kecupan lagi mendarat di keningnya.

 .

Eh? Sudah? Itu saja?

 .

Minji mengintip, lalu membuka mata. Mendapati Jongin sedang menelengkan wajah menatapnya, sambil tertawa geli melihat tampangnya.

“Tadi ada selai cokelat menempel di ujung hidungmu. Memangnya kau kira tadi aku mau melakukan apa, hah?”

 .

Jongin melepas pelukannya dari pinggang gadis itu, lalu dicubitnya hidung gadis itu dengan gemas, dan diacaknya rambut di puncak kepala Minji dengan sayang.

Kemudian lelaki itu berbalik, masih dengan cengiran lebar di wajahnya, untuk mengambil telepon dan memesan makanan dengan menu kesukaan Minji yang sudah dihapalnya di luar kepala.

 .

Jongin akhirnya menyerah. Biar sajalah Minji tidak pernah secara gamblang menyatakan perasaannya. Toh, seluruh sikap dan tindakan gadis itu sudah menjelaskan semuanya.

 .

Minji masih mematung, terduduk di atas buffet dengan kaki menggantung, dengan setoples selai cokelat di tangannya dan muka yang merah merona.

Dengan jantung yang masih berdebar tak keruan.

 .

Sial. Jongin tadi dengan sukses mengerjainya.

 .

Diamatinya lelaki yang berdiri tak jauh darinya itu. Lelaki yang sedang sibuk berbicara di ponsel, memesankan makanan untuknya.

Lelaki yang selalu memenuhi keinginannya. Yang sejak kecil menemaninya. Yang selalu ada untuknya. Yang tidak pernah menyakitinya. Yang selalu menghiburnya dengan tariannya.

Lelaki yang menggendongnya ketika lelah. Yang memeluknya ketika ia terluka. Yang menjaganya ketika ia sakit. Yang selalu memperhatikannya.

Yang tidak pernah sekali pun meninggalkannya.

 .

Lelaki yang tanpanya, hidup Minji akan terasa hampa.

 .

“Kai…” panggil Minji tiba-tiba.

Jongin meletakkan ponselnya, menoleh.

Hm?”

Nan jeongmal … neomu … neomu saranghae.”

 .

 .

-o-

Kau tahu? Tanpa kau minta pun,

aku memang tidak akan pernah bisa pergi darimu.

Karena …

 Sempurnaku, bersamamu.

-o-

 .

.

.

.

Huah, sampai juga kita di ending :’) bagaimana perasaan kalian? Tadinya mau aku pecah jadi tiga bagian, tapi akhirnya kujadikan satu, biar kalian tidak menunggu lebih lama lagi, hehehe 

Terima kasih banyak yaaa yang sudah mengikuti CFC Stories ini, terima kasih atas semua responnya. Kalian luar biasa. i love you all, guys :’) :* 

*peluk semuanya*

Nanti untuk postingan catatan tambahan tentang CFC Stories ini, akan aku publish belakangan, karena kalau ditulis di sini sekarang, terlalu panjang. Hehehe.

Sekali lagi, terima kasih banyak. Semoga kalian suka endingnya :*

.

XOXO,

~Chocokailate~

 

Advertisements

141 comments

  1. Akhirnya aku sampai juga di ending cerita, haah!

    seinget aku, tulisan tulisan kakak itu, diakhirnya selalu ada kataktata yg pas banget, yang menggambarkan cerita keseluruhan, dan itu sukaaaa bgt.
    “bahagiaku bersamamu” terharu. :’)

    Dan, makasih udah cerita seunik ini, dengan akhir bahagia, juga menciptakan karakter donghae yang dewasa, ILOVEYOUHAE. dan Oh Sehun yang tak terduga. Taemin yg cocok abis. SUKA SUKA SUKA.

    Tapi ampuni aku, setelah beberapa waktu aku berkeliaran di blog super keren ini, baru sekarang nyempetin baca cerita kakak.

    Like

  2. “Dalam hubungan percintaan yang melibatkan lebih dari dua insan, pasti akan ada yang kehilangan.” <–<< THISSS!! my most recent favorite quote!!

    Bener kaaan Donghae nya msh kekanak2an banget.. /squish him/

    salute to Kai, yg masih tetap pendirian ga mau mulai ngaku duluan..
    Aahh.. Manisnya kisah cinta mereka </3

    Like

  3. karena sempurnaku….bersamamu…
    aiiihhhh…sweet banget sih kak ini endingnya. aku suka banget bacanya. bener² kisah yg manis. two thumbs up buat kak Hilda pokonya. ditunggu ff yg lainnya Kak. semangkaaa!!! 😀

    Like

  4. Omfdg cuma bisa bilang keren keren keren banget cfc storiesnya udah speechless aku gk tau mau ngmong apa lagi :’) *thumbs up
    Tpi jujur aku msh pengen ada lanjutannya lgi hehe

    Like

  5. Aah, need explanation tentang hubungannya Donghae sama Dara. Kenapa tiba-tiba Donghae balik ke Korea? Kenapa tiba-tiba ngelamar Minji? Terus Dara gimana? Apa Donghae ditolak Dara? Apa Dara kena kecelakaan atau semacamnya? Atau, apa Dara jadian sama GD? /salah fokus –“. Tapi bener sih, aku pensaran sama hal itu. >.<
    Bagian Sehun nyatain perasaannya itu rada mainstream sih ya, menurutku. :D.
    Oke, Kai-Minji akhirnya bersama, ending yang indah. (∩_∩).

    Like

  6. huwaaa ending ya :”) kasian sama sehun, bahagia untuk kai, dan tetep… terharu dan kagum sama donghae. duh sehun nya beneran suka kan ternyata huwee. seneng deh happy ending.

    Like

  7. perasaan saya, perasaan saya campur aduk sampe ga bisa ngomong thor, ngahahaha~
    semacam envy gitu liat(?) donge+minji, mereka baik-baik aja meskipun sebenernya perasaan mereka juga ga bisa dibilang sebaik itu ._. /sotoy
    dan kai, saranghanda, saranghandagu~ /digiles minji

    Like

  8. Quotes nya mendukung cerita bet. Seperti biasa, aku suka cerita ka hilda yang khas, meski plotnya sering ditemui.
    Jika saja ada cerita semacam itu di dunia nyata

    Like

  9. Aaaaahhhh…. Jonginnie.. Kau manis sekali…
    Si Sexy Mesum Kkamjong dari EXO berubah semanis Baby Baekkie…
    Asdfghjkl pokoknyaaaa… :*
    Keep Writing, Thor^^

    Like

  10. Lika-likunya udahan~
    Dan berakhir dengan bahagia,, sungguh melegakan minji gak milih donghae..hihihi

    Dan yg lebih melegakannya lagi tsunderenya minji ilang 🙂 🙂

    Like

  11. Aaa akhirnya perjuangan kai berbuah hasil 🙂 aku selalu suka sama CFC author 🙂 berhasil membuat saya ikut terhanyut dalam ff ini. Suka banget sama konfliknya beda dari yang lain deh 🙂
    (maaf ya aku manggiil author soalnya aku ga tau harus panggil apa hehe maaf ya :)) aku boleh minta password let out the beast ga?e emailku putrialika.ap@gmail.com . Aku udah 18 tahun kok bisa chek di twitterku @syafiramajid 🙂

    Like

  12. Finally… yeaaay akhirnya aku bisa membaca puncaknya yg sangat amat mendebarkan. Sepanjang aku membaca cerita ini, jujur aku itu selalu komat-kamit ngga jelas. Apalagi pas bagian Taemin ituuu. Aah diaa lucuuuk tapi dewasa bgt.

    And. This is happy ending!! Yeaaay overall aku sukaaa bgt samaa CFC! apalagi setiap ending partnya selalu disisipin kata-kata yg nampol abisss. Feel ceritanya juga ngenaaa bgt…
    dan…

    “Sempurnaku bersamamu” ituuuu yaa ampun… bener2 ngenaaa bgt! sukses bikin aku menjerit di akhir cerita. Well. CFC sukses bikin aku gak bisa berpaling dari Kkamjong<3 best of best lah pokoknya.

    Sukses trs yaaa Chocokailate. Aku tunggu karya selanjutnyaa. Anw, salaam kenaaal 😀

    Like

  13. duh kak ini ff bikin aku…melayang ke luar angkasa sampe sampe nyangkut di planet EXO /apaan/
    quote-nya itu bikin diabetes kambuh, bayangin kamjjong kayak begitu bikin…. /okeakumikirduluya/ *kicked*

    TERUS KENAPA MUSTI SEHUN YANG DIANIAYA MACAM BEGINI???????????? /maafcapslocklagijebol/
    tapi aku suka, bayangin sehun minta maaf itu bikin hati, jiwa, pikiran, serta perasaan gak karuan ;___; /abaikanpartini/

    ah mian kakak baru baca sekarang ini cerita, udah lama banget ya padahal, barusan perang sama Matematika dan kawan kawan sih -,,,,-

    aku tunggu cerita yang lain kakak, salam kenal juga anin 96 line 😀

    Like

  14. FIUUUUH *elap keringat* aku udah ngulet-ngulet nggak jelas baca ini. Perasaan aku bener-bener campur aduk bin bin bin lah.

    Nggak tau kenapa aku ketar-ketir pas donghae ngelamar Minji, tau juga bakal Minji tolak tapi tetep aja deg-degan baca sampe ending. Pokoknya sukses dah sukse!!!!!!

    Oh Sehun, gyahahaha berarti waktu dia bilang mau ngerebut Minji dulu-dulu itu emang dari hatinya yak bukan buat ngegoda Kai doang fyiuuuh…….

    Sayang, rasa suka Sehun ketutup sama nafsu jadi ya gitu deh.

    Ih peran Taeminie emang oke punya, dia emang muahmuah pengen dikecup aja bawaannya.

    Enak banget ya si Minji hidupnya dikelilingi cowok-cowok ganteng
    -_- cuman complicated banget sih hidupnya. Sampek-sampek persahabatannya sama Sehun hancur begitu. Oh ya, alasan Donghae balik lagi nggak sama Dara kenapa ya? Rasain noh telat kan nyadarinya >//<

    jadi ff ini mereka semua telat menyadari perasaan masing-masing ya…..huhu kkamjong-minji tapi akhirnya bersama <333

    karena sempurnaku, bersamamu.

    Like

  15. Sehunna sini sini kerumah aku aja, lupain aja Minjinya wkwk endingnya baguuss quote-nya banyak, aku suka aku suka ikutan deg degan pas adegan Kai yang katanya-ngelap-wajah-Minji-yang-belepotan ituuu, aduh suka suka suka sukaaa

    Like

  16. Sukaaaaaaaa bangeet, meskipun gak baca keseluruhan tapi feelnya dapet
    Manisnya gak ketolongaaan,
    Akuu makin sayang jongin, dia soswit dgn caranya sendiri omo ._.*kehabisankata2
    Waaaaah, sehunnie kanmasih kecil tapi ._.*syokberat
    Authornim jjang ! Keep writing pokoknya
    Maapkan aku yg gentayangan jam segini hahaaa*bowbarengkai

    Like

  17. kyaaaa akhirnya happy ending jugaa, bayangin waktu sehun minta maaf itu biking hati tercabik-cabik /apaini?/

    terus salut juga sama donghae Yang bisa nerima kekalahan, jarang Ada cowo kayak gitu,
    bikin senyum-senyum waktu part kai ngerjain minji, gue sampe guling-guling dikamar hahah,
    suka sama quotes Yang di selipin, bikin makin ngefell.
    and this is my favorite quotes : If you love somebody, let them go,
    for if they return, they were always yours.
    If they don’t, they never were.
    kyaa

    Like

  18. yeyeye lalala~ jongin minji hahaaaa
    suka pas jongin ngedudukin minji di atas atas apa itu td namanya pas di dapur¿ buffet¿ *eh wkwk ya pokoknya itu lah. sweet banget >_< dan akhirnya minji bikin pengakuan kalo cinta sama jongin XD

    Like

  19. Aaaaaaaaak ini endingnya sweet banget aaaak!!! Minji-ya, selamat berbahagia dengan Jongin wkwk Taemin keren bisa berubah secepat itu wkwk ceritanya keren keren (y)

    Like

  20. HUAAAAAAA akhirnya ending juga. harusnya tittlenya bukan cfc tapi gloomy jongin lol /slapped. abisan jonginnya disini menderita terussss. tapi yaudahlah yang penting happy ending! as always loving that’s quotes uyeeay♡ I’m waiting for the next fanfiction like this okaaaay D;

    Like

  21. what a happy ending story ❤ seneng banget ternyata endingnya sesuai harapan, bahkan di akhiri dengan kalimat yang manis /prokprok/ you are great onnie 🙂 keke~ aku tadinya udah takut banget kalo Minji bakalan lebih milih buat sama Donghae, scara kan dia paterpannya Minji, but She decided to choose Jongin in the end, good Job Minji.. Aku seneng banget pokonya meski awalnya Minji ngalihin pembicaraan pake acara lapar sgala sampe Jongin nyerah, tapi di akhir dia bilang saranghae juga. How sweet :') Jongin pasti seneng banget tuh. Last, thanks for making a nice story like this Ka, I do like it… a lot 😀

    Like

  22. jjiaaahh…!!

    jongin…! knp kamu seksi bgt dsni ..!!
    bkin teriak ma guling2sndri ,gegara minji yg belepotan aja looh..
    jonginnya jd sweet2seksi gt,eh tp sejak jaman Shoes ,jongin emang uda sweet deh ya.

    ama satu lg.

    …sempurnaku bersamamu…

    #meleleh
    #menguap
    #melebursamajongin-eh-angin
    #tinggalnama

    gmna nih author, masi blom mo bagi pw LOTB nya??
    pdhal kan q ud nulis 24 loh..
    #telat umur ngebiaskai huhuuuu…

    q kan pnsaran bgt author. Bwt nglengkapin seri cfc q, q save smua serinya looh,_gadaygnanya!!!

    boleh yah-yah??
    ………

    Pleeeeeeease………

    Like

  23. yaampun itu kata2 yang terakhir bikin meleleh :3
    karena sempurnaku, bersamamu :3
    akhirnya duo ini jadi couple, yeay!
    langgeng yaaa huehehe

    Like

  24. Sempurnaku… bersamamu…. Bikin baper 😚😚😚😚 sumpah dari awal series udh bikin aku meleleh 😤😤😤😤😤 dan sekarang akhirnya happy ending ya ampun ini …..aaaaahhhh jonginnnnnnnnnnnnnn makin cinta aku sama kamu 😘😘😘😘😘😘😘 tapi aku blm baca LOTB 😦 masih berasa kurang ,tpi gpp ini udh bikin senyum -senyum sendiri 👀 ,tapi aku ga. Nyangka kalo sehun beneran suka sama minji aku kira pas series sebelumnya sehun bilang pengenbjadiin minji seutuhnya itu becanda 😂,ternyata eh ternyata …..

    selamat untuk Kai-Minji semoga kalian berbahagia… *tebarbunga 🙌🙌🙌

    Like

  25. Donghae, aku enggak bisa menolak pesonamu di ff ini. Jadi intinya walau kau di tolak kau tetap keren /?
    Sehun, aku setuju dengan kalimat terakhirmu di atas … dan bersabarlah .. *tepuk pundak*
    Taemin, entah kenapa kau menjadi sangat imut dan sangat keren di saat bersamaan. kurasa aku enggak bisa berhenti untuk jatuh cinta padamu.. hahahah..
    Kai, aku paling enggak suka sama cowo yang bilang “Pergilah jika kau ingin pergi. Aku tidak akan menahanmu.” rasanya tuh nyebelin, tapi karakter kai yang setia sepanjang hayat itu bikin aku makin meleleh terus-terusan…

    dan Minji, kau beruntung nak … hahahah…

    Untuk Kak Chocokailate, aku cuman bisa bilang keren. FF ini sebenernya kisah yang biasa terjadi di dunia nyata, dan kakak bisa menyulapnya dengan sangat cantik. Perasaannya tersampaikan penuh dan aku bisa merasakan maksud cerita ini dengan sangat baik. Di tunggu cerita manis lainnya kak. ^^

    Like

  26. OH PLEASE HELP!
    Kena serangan virus romantis dari jongin nihh♥
    Ih demi, suka banget banget banget sama jongin disini. Apa ya? Dia tuh gentle, bijak, tulus, intinya cowo banget. Sanggup gitu ga maksa minji harus milih dia.
    Aku suka sama semua quote yg ada disini, apalagi yg terakhir uuhhh♥.♥
    aku suka gimana kamu nyelipin comedy segar antara minji-taemin
    aku suka alur yg kamu buat, rapi & bagus
    aku suka gaya penulisan kamu
    aku suka endingnya
    aku suka semuanyaaaaa♥
    Ga sia2 dpt recommended ff ini
    walaupun aku blm baca part LOTB nya hehe

    Best regards 😉

    Like

  27. SUMPAH SUMPAH SUMPAH DEMI APAPUN INI ENDED NYA MENYITA HATI GUA BUAT BERDEBAR DEBAR GA KARUAN. SIALAN JONGIN. SIALAN. HINA EMG HINA!!!! HAAAA.

    GUA KIRA BAKALAN SAD ENDED BGT GARA GARA SEHUN JONGIN DONGHAE PADA FALL KE MINJI TAPI NYATANYA AKHIRNYA BAHAGIA BIAR PUN GUA GA RELA LIAT SEHUN TERSAKITI /GA TAPI GUA SENENG LIAT KKAMJONG BAHAGIA. BHAK JONGIN SIALAN

    TAPI?!?!?!?! KENAPA SEHUN HARUS DINODAI DISINI. YAALLAH HINA BAT SEHUN HINA. HAH. TAPI GAPAPALAH. KU TETAP PADAMU OH SEHUN.

    AHIYA ITU DONGHAE KENAPA BIJAK BANGET SATAN. BIKIN GUA JATUH HATI AJA. BTW YA ANAK SUJU KENAPA TAMBAH TUA MALAHAN TAMBAH GANTENG?! APALAGI RYEOWOOK OPPA. OH MY OH MY OH MY. MATI W

    BTW INI HARUS ADA SEQUELNYA LAGI!!! MAU LIAT LANJUTANNYA AH JANGAN DI END GT AJAㅜㅜ SEHUN BLM DAPET MAAF SOALNYA. KAN KASIAN LAKI W. GA

    BTW CONGRATS BUAT KAKAK YG BERHASIL BIKIN GUA MELTING SETENGAH MAMPUS GARA GARA BACA FF INI. DAMN

    QUOTESNYA?!!?! KENAPA NYETUH HATI BGT. FUCKIE

    Like

  28. Akhirnya Happy ending..hore
    Jongin sama Minji tetep bersama.
    Kisah cinta yang dimulai dari persahabatan sejak kecil..kyaaa so sweet
    Jongin pake’acara ngerjain Minji segala..napeun namja
    Donghae gimana ya kabarnya setelah ngerelain Minji? Mending sama aku aja sini..#ngarep
    Ya tidak semua orang beruntung untuk mendapatkan kesempatan kedua, jadi berusaha semaksimal mungkin di tiap kesempatan.
    Itu salah satu yang bisa aku peroleh dari FF ini, apalagi kalau udah menyangkut perasaan.
    Nice FF..and sweet story..:-)

    Like

  29. uwaa~~ walaupun baru baca, tetap aja fanfict ini bagus banget~~ aku suka dalam pemilihan kata-katanya… dan dalam fanfict ini, entah kenapa aku milih fokus ke Taemin dan Minji, rasa persahabatannya kerasa banget. nice fanfict!. keep writting thor

    Like

  30. U made my day so beautiful tonight, kak! Aku maraton baca series ini dari LOTB ampe final. And…. hasilnya sungguh memuaskan! Aku suka banget, Kak! Cerita khas anak remaja, tp kakak mengemasnya dengan cantik! Kusuka banget, kak! :”)
    pokoknya aku suka banget sama tulisan kakak! Banget banget banget!!! ❤❤❤❤❤
    Well, akhirnya Minji menyadari perasaannya sendiri terhadap Jongin. Aku lega banget kak, akhirnya Jongin dan Minji bisa bersama :”)
    kasian juga ngeliat mas Donghae sama Sehun di sini. Tapi aku salut sama mereka, dan suka sama sikap mereka berdua di ff ini :””3
    Semoga Minji bisa memaafkan Sehun, ya 😂
    aku juga suka scene terakhir Jongin sama Minji. Tbh, berasa aku yg jadi Minji. sumpahnya, Kak! Tiap partnya tuh, dalam benak aku yang jadi Minjinya tuh aku 😂😂😂😂😂
    Pokoknya, ff ini sukses memporakporandakan isi hatiku, Kak! Aku sukaaaaaaaaa banget! Gak ngecewain soalnya :”)
    ditambah, quotes di setiap cerita tuh selalu pas melengkapi isi ceritanya :”)
    Sikap Taemin di sini pun sahabatable/? Banget 😣😣😣😣😣 ada yaa yang bijak malah balik lagi jadi bertingkah imut lucu dal itungan detik? 😂😂😂😂😂
    Kak, makasih ya kakak udah menyuguhkan karya fiksi sebagus ini ☺ salut sama kakak yg bisa merangkai setiap katanya menjadi kalimat indah yg enak dibaca. Rapiiii banget! Kusuka 😊😊😊😊
    Oh, ya, kujuga suka sama kata di akhirnya, ‘Karena sempurnaku, bersamamu’ awww! So sweet! And I wish that I have a boyfriend like Kim Jongin. I like him so much! Baca ff ini beneran bikin kadar rasa suka dan cinta aku meningkat 😁 Padahal aku gak ngebiasin dia di EXO 😂
    Ehiya kak, maapkeun ya kalau komen Isan kepanjangan. maaf kalau bikin kakak bosan bacanya. tapi lebih baik jangan dibaca kak, takutnya jadi ngantuk gegara baca komen ini 😁😁😁😂
    Well, keep writing, kak! kalau ada waktu, aku pasti bakal baca another story dari cerita ini 😂😂
    사랑해 힐다 언니 🙆🙆🙆🙆🙆🙆🙆🙆❤❤❤❤❤❤❤❤💋💋💋💋💋💓💓💓💓💕💕💕💖💖💜💞❤💗

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s