INFINITE ONESHOT SERIES – #SUNGYEOL

sungyeol-lumie

Daredevil

Kalau kau sampai mati karena pekerjaan ini, aku takkan menangisimu …

___

Hamparan cakrawala biru terpapar sejauh batas pandang. Sang surya berkuasa tanpa lawan di langit pertengahan musim panas. Terik dan menyengat.

Sungyeol dapat mendengar bisikan angin yang menggelitik daun telinganya. Matanya terpejam sesaat. Suara debaran jantungnya kini terdengar bertautan dengan suara riuh angin.

YAAAA!!”

Berpasang-pasang kaki berlari cepat di atas jembatan Seogang yang melintasi Sungai Han. Sungyeol membuka kedua matanya ketika suara derap itu semakin terdengar jelas. Pria-pria berjas hitam dengan kancing-kancing kemeja putih paling atas yang terbuka saling beradu lari ke arahnya.

Sungyeol menunduk. Tubuh jangkungnya berhasil mengelak dari pukulan pria pertama yang tiba di hadapannya. Sedetik kemudian, ia balas meninju perut pria itu hingga memuntahkan air.

Dua pria lain telah bersiap di balik tubuh pria pertama yang kini telah rebah. Satu pria melesat cepat ke belakangnya, mengunci kedua lengan Sungyeol sehingga gerakan gesitnya terhenti. Pria yang satunya bersiap melayangkan kepalan tinjunya.

Kaki Sungyeol bertolak pada beton jembatan dan sontak tubuhnya terlontar ke udara. Dengan sepasang kaki yang sama, ia menendang kuat-kuat dada pria di hadapannya hingga rubuh. Dalam sekali waktu, sikutnya menyodok pria di belakangnya. Ia terbebas. Tanpa menyiakan sedetik waktu, Sungyeol berputar dan kali ini giliran pria yang sedang terhuyung itu untuk menerima pukulannya.

Tiga orang kini terkapar di kakinya. Sungyeol melayangkan pandang ke arah depan.

Satu—dua—tiga—empat. Bola mata Sungyeol bergerak menghitung pria-pria berjas hitam lain yang masih berdiri tegak.

Ia berlari maju. Tubuhnya menghantam sempurna pria yang berdiri paling depan. Dalam sekedipan mata, pria itu terlontar ke udara.

Tubuh Sungyeol berputar. Kaki kanannya terangkat tinggi-tinggi. High kick. Tepat mengenai tengkuk sasarannya.

Ia bersiap maju menghadapi dua pria yang tersisa, namun langkahnya tertahan. Sebuah pistol teracung ke arahnya.

CUT!”

Sungyeol menghembuskan napas lega. Ia menunduk pada dua pria di depannya, lalu mengulurkan tangan pada seorang pria yang masih terduduk di dekatnya.

Kamsahamnida, Hyung.” Sungyeol menepuk punggung tangan—dalam genggamannya—milik pria yang baru saja dibantunya berdiri.

“Sungyeol ah, gerakanmu makin bagus saja.” Sungyeol tersenyum tipis sembari menggaruk tengkuknya mendengar kemampuannya dipuji.

“Sungyeol ssi, bersiap untuk take berikutnya,” ujar seorang kru film yang menghampirinya.

Ne.” Tubuh Sungyeol membungkuk dalam.

Sungyeol berjalan cepat ke sisi jembatan. Kepalanya melongok melewati batas jembatan.

Ini bukan masalah besar. Kalimat itu terucap dalam batinnya dan menjadi semacam sugesti yang membuatnya tak gentar ketika harus melontarkan tubuhnya ke udara dan membiarkan gravitasi menariknya ke bawah hingga menghantam permukaan air.

___

Lampu ruang tengah tiba-tiba menyala. Sungyeol menyipitkan matanya ketika cahaya silau masuk ke dalam matanya.

“Kau sudah pulang? Kenapa tidak menyalakan lampu?”

Sungyeol membuka matanya kembali setelah kedua pupilnya telah beradaptasi dengan cahaya. Kepalanya menoleh ke arah suara yang berbicara kepadanya.

Gadis yang diamati Sungyeol sedang sibuk melepas tali sneakers ungu kesayangannya dan meletakkan sepasang sepatu itu di rak paling atas agar mudah diraih besok pagi jika ia akan kembali mengenakannya.

“Kau kenapa lagi, Oppa?” Gadis itu melangkah ke arah Sungyeol. Tubuh mungilnya mendarat tepat di sisi Sungyeol. Matanya menyelidik tiap jengkal tubuh Sungyeol yang duduk bersandar pada dinding.

“Tidak kenapa-kenapa, Hana.” Sungyeol mengelak. Meski ia yakin dalam jarak sedekat itu tak mungkin Hana luput melihat lukanya, Sungyeol tetap tidak bisa berkata aku terluka dengan gamblang di hadapan gadis itu.

Hana mendengus. Ia tak perlu bertanya lebih jauh ketika mendapati telapak tangan kiri Sungyeol terbalut perban. Selalu ada lebih dari seratus alasan setiap Sungyeol pulang dengan keadaan terluka. Sekali waktu, memar biru di sekujur tubuhnya. Lain waktu, sobekan pada kulitnya. Serta lebih dari sekali, Sungyeol mengalami retak atau patah tulang, juga dislokasi sendi.

Hana tak pernah setuju dengan pekerjaan yang digeluti Sungyeol. Meski ia selalu berkelit dengan mengatakan bahwa yang dilakukannya tak lebih dari sekedar stage combat—adegan perkelahian yang tidak sungguhan melukai fisiknya—atau adanya peralatan pengaman yang menjamin aksi-aksi berbahaya yang dilakukannya tidak akan membahayakan nyawa, Hana tetap yakin selalu ada celah dalam kesempurnaan mekanisme yang selalu dijabarkan panjang lebar oleh Sungyeol setiap kali gadis itu mengoceh tentang risiko yang harus dihadapinya.

“Lihat! Lihat! Itu aku!” Sungyeol selalu berseru penuh semangat setiap kali menunjukkan sosoknya tampil melakukan adegan berbahaya dalam film.

Biasanya Hana hanya mencibir, terkadang mengomel. “Apa yang bisa kulihat? Punggungmu yang melompati atap? Atau yang terjun menghantam kaca jendela?”

Sungyeol merasa Hana berlebihan. Ia tahu semua omelan gadis itu adalah wujud rasa khawatirnya. Karena alasan itulah, Sungyeol selalu sabar jika kupingnya memanas setiap kali Hana mengoceh panjang lebar dengan deretan kalimat yang bahkan sudah Sungyeol hafal di luar kepala.

“Kau tahu kan berapa banyak stuntman yang mati konyol karena pekerjaan mereka?” Hana masih saja merutuk ketika melangkah ke dapur untuk mengambil minum.

Sungyeol diam, sedangkan Hana kembali mencerocos ketika selesai meneguk segelas air. Perlahan gadis itu berjalan kembali ke arah Sungyeol. Dengan sedikit kasar, Hana menarik tangan kiri Sungyeol. “Coba lihat!”

Sungyeol tersenyum simpul. Gadis itu memang seringkali terlihat tidak peduli padanya, namun cepat atau lambat, Hana tetap akan memastikan luka yang didapat Sungyeol tidak parah.

Gadis itu berdecak. “Sakit tidak?”

“Kau cemas?”

“Tidak.” Hana menurunkan tangan Sungyeol.

“Kalau begitu kenapa bertanya, Bocah Jelek?”

Jitakan mendarat mulus di puncak kepala Sungyeol. Hana benci jika Sungyeol mengatainya bocah jelek.

Ya! Apa!” Sungyeol mengelus kepalanya dengan tangan yang tak terluka.

“Aku mau masak ramyeon.” Hana kembali bangkit berdiri dan berjalan ke dapur. Mata Sungyeol mengekori gerakan gadis itu. Letak dapur yang berada di sisi kanan ruang tengah dan tanpa pembatas membuat Sungyeol dapat melihat dengan jelas punggung Hana yang membelakanginya.

“Masakkan juga untukku!” Sungyeol memerosotkan tubuhnya ke lantai.

Hana berbalik. Tangan kanannya memegang panci yang telah diisi air. “Masak sendiri!”

“Aduh! Aduh!” Dengan sengaja Sungyeol mengangkat tangan kirinya dan meniupnya. “Tanganku sakit. Aduh!”

Hana mencibir. Ia tahu Sungyeol hanya berpura-pura sakit.

“Aktingmu sangat buruk, Oppa! Baiklah, aku buatkan juga untukmu.”

Sungyeol terkekeh. “Kalau aktingku bagus, aku sudah jadi aktor utama di film.”

“Ya, ya, ya, tapi kau harus operasi plastik sampai setampan Oguri Shun dulu untuk jadi aktor terkenal.” Hana meledek Sungyeol dengan menyebutkan salah satu aktor berdarah Jepang yang dikagumi lelaki itu.

Ah!” Sungyeol terpekik ketika mengingat sesuatu. Ia segera merogoh saku jaket yang tergeletak di sampingnya. “Hana-ya, aku mau menunjukkan sesuatu!”

Hana memutar kepalanya untuk melihat Sungyeol yang berjalan riang ke arahnya.

“Tadi aku bertemu Soo Ae di lokasi syuting. Kau lihat? Aku berfoto bersamanya.” Dengan bangga, Sungyeol memamerkan fotonya bersama aktris cantik—tipe wanita idamannya—yang membintangi drama Athena: Goddess of War.

Hana melirik foto yang terpampang di layar ponsel—sekilas, tanpa minat. Hanya sekejap saja dan ia kembali menatap panci ramyeon-nya.

Yaaa~ lihat dulu!” Sungyeol memaksa Hana kembali berbalik dengan menarik bahu gadis itu.

Oppa, aku sedang masak. Jangan ganggu!”

Siku Hana menyingkirkan tangan Sungyeol yang terus menjulurkan ponsel ke arahnya. Gadis itu menggerundel, bahkan ketika Sungyeol akhirnya menjauh dan memilih untuk menunggu makanan di ruang tengah.

___

Sungyeol menghirup kepulan uap yang membumbung dari cangkir Americano di tangannya sebelum menyesap minuman panas itu. Entah seberapa besar rasa suka lelaki itu pada kopi, tetap saja menikmati secangkir Americano panas di siang hari musim panas yang terik akan telihat aneh.

“Kau yakin mengambil tawaran itu?” Woohyun menyandarkan tubuhnya santai pada punggung kursi yang dilengkapi bantalan empuk. Satu tangannya tergeletak di atas meja, memutar perlahan gelas ice chocolate miliknya.

Sungyeol meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. Kedua tangannya terlipat manis dan tubuhnya sedikit condong ke depan. Matanya menatap sahabat baiknya yang sibuk mengunyah potongan es batu dan menimbulkan suara gemeletuk.

“Dengar.” Sungyeol bicara pelan dengan nada serius. “Kau kira berapa lama aku menunggu kesempatan ini, eoh?”

Woohyun mengangkat bahu. “Tapi tetap saja, itu terlalu berisiko. Bagaimana kalau Hana tahu?”

Senyuman di wajah Sungyeol lenyap ketika telinganya mendengar sebuah nama yang disebutkan Woohyun. “Ia, jangan sampai tahu.”

“Kau mau merahasiakan hal ini darinya?” Mata Woohyun membulat.

“Itu satu-satunya cara.”

Woohyun diam. Ia tahu Sungyeol takkan mengubah keputusannya. Bukankah mengenalnya sejak SMP sudah cukup membuatnya mengerti karakter Sungyeol?

Sungyeol adalah anak lelaki pertama yang mengajaknya membolos pelajaran matematika yang ia benci dengan mengendap-endap keluar kelas dari jendela, lalu melompat ke tangga darurat di belakang gedung sekolah. Sungyeol juga yang pertama kali mengajaknya berkendara menaiki sepeda motor sebelum kaki-kaki mereka cukup panjang untuk menapak pada aspal. Sungyeol selalu menjadi teman pertama yang mengajaknya melakukan hal-hal menarik.

Ketika akhirnya mereka tumbuh semakin dewasa. Sungyeol adalah mitra terbaik bagi Woohyun dalam segala hal.

Keduanya menyukai tantangan. Mereka menikmati setiap luapan adrenalin dari aksi-aksi yang berbahaya. Misalnya dengan berpura-pura menjadi dua orang agen rahasia yang melawan segerombolan mafia. Dengan mobil pinjaman, mereka berkendara dengan kecepatan tinggi. Sungyeol duduk di bangku kemudi. Dengan lihai memainkan kopling dan mengganti gigi. Lalu ketika baku hantam terjadi, Sungyeol akan melepaskan kemudi untuk diambil alih oleh Woohyun. Ia membuka pintu mobil dan memanjat ke atap. Dengan satu tangan berpegangan pada sisi atap dan tangan lainnya menembakkan pistol mainan. Mereka baru akan berhenti ketika yakin para mafia telah kalah dan mobil-mobil musuh terbalik hingga meledak.

Tak heran jika keduanya sepakat untuk meniti karir dalam bidang yang penuh bahaya. Menjadi stuntman bukanlah hal yang mudah. Mereka menghadapi latihan-latihan keras yang tak jarang membuat keduanya berakhir babak-belur.

Mereka menjalani semuanya tanpa mengeluh karena mereka punya impian.

Aigo, Seokwon Hyung benar-benar menjadi aktor sekarang,” ucap Sungyeol suatu ketika dengan mata menatap lekat ke layar televisi.

Woohyun ikut menatap layar televisi yang menampilkan sosok pria dua puluh empat tahun yang tampan dan berbadan atletis itu. Seokwon juga sama seperti mereka. Seorang stuntman. Namun kini ia telah menjadi seorang aktor.

“Suatu hari nanti, seluruh Korea pasti akan mengenal wajahku. Aku akan menjadi aktor terkenal,” ujar Sungyeol penuh keyakinan.

Woohyun hanya terkekeh dan meninju pelan bahu sahabatnya. “Yaa, bukankah sebelumnya kau bilang kau ingin menjadi stuntman seperti Steve Chang?”

Sungyeol menyengir lebar. Ia ingat baru beberapa minggu lalu ia mengatakan ingin menjadi stuntman profesional yang terlibat dalam film-film besar seperti Steve Chang—stuntman berdarah Korea yang dibesarkan di Los Angeles yang telah bekerja untuk film-film terkenal seperti Indiana Jones dan Transformer 3—tapi barusan ia malah terpukau dengan kesuksesan sunbae-nya.

“Aku ingin menjadi aktor terkenal yang melakukan sendiri adegan stunt-nya. Ah, seperti Jackie Chan!”

Sungyeol selalu penuh impian, seolah satu saja tidak cukup. Sungyeol selalu penuh dengan semangat. Sungyeol tak pernah terhentikan.

Sungyeol adalah daredevil. Rasa takut tak pernah menjadi penghalang yang berarti baginya. Seolah urat-urat sarafnya telah kebal akan rasa takut karena diliputi keberanian yang membara di tiap jengkal tubuhnya. Keberanian yang membuatnya sanggup bermain-main di garis batas antara hidup dan mati.

“Jangan beritahu Hana soal ini.” Sungyeol kembali mendesak Woohyun untuk berjanji padanya.

“Kau janji akan baik-baik saja? Dongsaengmu itu, akan membunuhku jika kau terluka.”

Manik mata Sungyeol menatap lekat ke arah Woohyun. Ia mengangguk.

___

It is a huge team effort to make a great movie and everyone plays their part.

Dibalik suksesnya sebuah film, banyak orang yang memeras keringat. Mereka adalah orang-orang yang berada di balik layar, yang keberadaannya tertangkap kamera, namun wajah-wajahnya tak pernah dikenal publik. Kehadiran mereka tak disadari oleh siapa pun yang melihat aksi mereka.

Aliran darah mereka sudah mengenal jelas denyut nyeri yang seringkali mewarnai perjuangan mereka. Keberanian mereka tak kunjung mengering seperti mata air di kaki gunung. Mereka tak mengenal rasa takut ketika tubuh mereka diayun oleh angin atau bermandikan dengan api.

Para stuntman.

Butuh pengorbanan untuk sekedar mendapat pengakuan publik atas kerja keras mereka. Banyak yang terluka parah, tak sedikit yang mengalami kelumpuhan permanen, bahkan hingga meninggal dalam kecelakaan syuting.

Kontrak kerja mereka ibarat membeli kertas lotre dengan nyawa sebagai taruhannya. Jika beruntung, nyawa mereka selamat, dan mereka mendapatkan bayaran yang sewajarnya. Sebaliknya, jika dewi fortuna meninggalkan mereka, maka mereka harus rela kehilangan segalanya.

Sungyeol tahu semua risiko yang harus ia tanggung. Semua hal yang dikatakan Hana benar, meskipun berulang kali ia menanggapi ocehan gadis itu dengan ringan. Seolah ia sedang bermain game.

It’s all fun and games until someone gets hurt.

–The London Police

Hana terluka. Mata gadis itu menyiratkan semua kepedihan yang tak terucapkan. Bahkan Sungyeol yakin rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan kepedihan gadis itu ketika mendapati Sungyeol terbaring di rumah sakit.

Kecelakaan itu terjadi dua tahun lalu. Kesalahan kecil membuat tiga rusuk Sungyeol retak dan tulang hastanya patah. Ia hanya luput beberapa jengkal dari air bag tempat ia harusnya mendarat dengan aman setelah melompat dari jendela lantai tiga sebuah rumah toko.

Sungyeol takkan pernah melupakan bagaimana Hana menangis dan memohon agar ia berhenti dari pekerjaannya. Namun, ia terlampau keras kepala. Ia tak ingin berhenti. Ia tak bisa berhenti karena inilah jalan menuju impiannya.

“Kalau kau sampai mati karena pekerjaan ini, aku takkan menangisimu ….” Emosi Hana memuncak ketika Sungyeol terus bersikeras mempertahankan egonya.

Pintu dibanting dengan keras. Sungyeol bergeming. Dengan keadaannya saat itu, mustahil baginya untuk menahan Hana.

Gadis itu tak muncul di rumah sakit hingga Sungyeol diperbolehkan pulang. Tak ada penyambutan di rumah ketika Sungyeol kembali. Perang dingin berlangsung selama sebulan setelahnya hingga akhirnya Sungyeol kembali terluka. Kali ini hanya memar ringan di bahunya.

Mianhae,” ucap Sungyeol lirih.

Satu kata mewakili semuanya. Maaf karena dirinya terluka. Karena telah membuat adik kesayangannya menangis. Karena telah membuat Hana juga terluka bersamanya.

Hana berhenti mengompres lebam kebiruan di bahu Sungyeol. Ia mendengus pelan sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya yang terhenti. “Sudahlah, asal Oppa berjanji untuk selalu baik-baik saja.”

Hana tak pernah lagi menangis. Namun, Sungyeol tahu gadis itu juga terluka setiap kali ia terluka. Bukan luka fisik yang kentara, namun luka di dalam hatinya karena diliputi rasa khawatir. Hana selalu peduli padanya meski gadis itu bersikap seolah tak acuh padanya.

Sungyeol memegang janji itu. Ia selalu pulang dengan keadaan baik-baik saja, meski terkadang ia tetap pulang dalam keadaan terluka. Sekalipun butuh waktu baginya untuk pulih dari cedera—yang artinya membuatnya bergantung pada gadis itu—Sungyeol selalu meyakinkan Hana bahwa dirinya baik-baik saja.

Sungyeol berjanji tak akan meninggalkan Hana. Ia takkan mati dengan mudah dan membiarkan gadis itu hidup sebatang kara seperti ketika nasib mempertemukan mereka belasan tahun lalu.

Sungyeol baru berusia sepuluh tahun ketika ia bertemu dengan bocah perempuan kecil yang dibawa orang tuanya pulang ke rumah. Bocah perempuan yang diangkat dari panti asuhan karena ibunya masih merasa kehilangan akibat keguguran yang dialami pada masa kehamilannya dan menyebabkan kandungannya harus diangkat—yang artinya takkan pernah lagi ada adik bayi bagi Sungyeol.

Kehadiran Hana membawa tawa yang pernah terenggut dalam keluarga Sungyeol selama beberapa bulan terakhir. Kedua orangtua Sungyeol melimpahkan begitu banyak kasih sayang pada bocah perempuan kecil yang manis itu.

Ketika akhirnya kedua orangtua Sungyeol meninggal dalam kecelakaan lima tahun lalu, Sungyeol mengukir tekad dalam dirinya untuk menjaga Hana. Maka, sekalipun Sungyeol harus menempuh bahaya dan mempertaruhkan nyawa demi pekerjaannya, ia tak ingin Hana ikut terluka karenanya.

___

Tawaran itu sungguh datang. Sungyeol masih merasa hal itu seperti mimpi di siang hari.

“Tampar aku. AW! YAAA!”

Sungyeol menaikkan tinjunya ketika Woohyun menampar wajahnya. Padahal ia hanya bergumam asal karena merasa dirinya masih berada di ambang batas antara mimpi dan kenyataan.

“Kau yang minta.” Woohyun menyilangkan tangan di depan wajahnya, berjaga kali-kali Sungyeol serius akan balas meninjunya.

Sungyeol meninju bahu kiri Woohyun pelan. “Kau juga dengar kan tadi? Ini sungguhan! Aku akan jadi aktor sungguhan!”

Senyum lebar mengembang di wajah Sungyeol, menarik kedua pipinya lebar.

Tangan Woohyun perlahan diturunkan kembali setelah yakin sahabatnya kini tak mungkin meninjunya. Ia ikut tertawa mendengar Sungyeol sudah lebih dahulu tergelak hingga kepalanya terangkat ke atas.

Chukhahae!” Sungyeol langsung merangkul Woohyun yang memberi ucapan selamat padanya.

“Aku sungguh beruntung. Kau tahu, hari ini sepertinya merupakan hari keberuntunganku!”

Sungyeol meluapkan perasaan senangnya dengan sedikit membully Woohyun. Mengacak rambut sahabatnya itu, menekan-nekan pipinya, dan menggoyangkan tubuhnya riang.

“Sungyeol ssi, siap-siap!” ujar seorang kru yang mengangkat tangan ke arah Sungyeol sebagai kode untuk segera datang.

Sungyeol melepaskan tubuh Woohyun. “Tunggu aku di sini! Akan kuselesaikan dengan cepat lalu kita bisa pergi merayakannya.”

Woohyun mengamati sahabatnya yang berlari menjauh. Ia tersenyum senang. Meski bukan dirinya yang mendapat tawaran bermain menjadi aktor sungguhan, melihat Sungyeol begitu bahagia membuatnya juga turut bersemangat.

Sungyeol melambaikan tangannya ke arah Woohyun dari atas motor. Perasaan bahagia meletup-letup dalam batinnya. Ia mengacungkan jempol ke arah Woohyun sebelum mengalihkan pandangan ke jalan beraspal di hadapannya.

Tangannya menahan kopling kuat-kuat. Kakinya menginjak gigi. Suara deru gas terdengar di udara. Tepat saat sutradara memberi clue, Sungyeol melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Menembus angin. Memecah jalan di depannya.

___

Jalan-jalan di Myeongdong tidak pernah sepi. Terutama di akhir pekan seperti sore hari ini. Menyambut malam Minggu, banyak pasangan yang datang ke Cacao Green, kafe tempat Hana bekerja paruh waktu setiap hari sepulang sekolah dan pada akhir pekan saat libur.

Pada akhir pekan seperti ini, Hana bekerja full time. Melayani tamu-tamu yang terus berdatangan tak ada habisnya hingga waktu berlalu dan tiba saatnya kafe ditutup. Hana masih tertawa renyah ketika bertukar lelucon dengan teman kerjanya. Ia juga masih menyempatkan diri melongok barista yang mencoba membuat corak baru di atas coklat panas.

Tak ada firasat apapun ketika Hana mendapati empat buah panggilan tak terjawab di layar ponselnya. Peraturan membuatnya tak boleh menggunakan ponsel selama bekerja, sehingga Hana menyimpan ponsel dan tasnya di dalam loker dan baru mengeceknya setelah jam kerja berakhir.

Oppa?

Ia masih tak memiliki firasat. Pikirnya, Sungyeol paling-paling hanya ingin membanggakan diri karena bertemu dengan akris cantik di lokasi syuting. Atau mungkin, Sungyeol hanya ingin menyuruhnya membeli makanan sebelum pulang ke rumah.

Nyatanya, Sungyeol memang selalu meneleponnya untuk hal-hal semacam itu. Hal-hal yang menurut Hana sama sekali tidak penting.

Sungyeol tidak akan menelepon Hana jika ia terluka. Jika ia kehilangan kesempatan untuk tampil dalam film yang menjadi keinginannya. Jika ia memiliki masalah. Sungyeol memilih menunggu Hana kembali ke rumah selepas pulang kerja untuk bercerita secara langsung. Hana akan memasang kupingnya selama mungkin untuk mendengarkan setiap ocehan Sungyeol karena ia menjadi dua puluh tiga kali lebih cerewet ketimbang biasanya. Tahun depan ia pasti akan dua puluh empat kali lebih cerewet.

Sungyeol adalah anak lelaki yang pendiam ketika Hana pertama kali bertemu dengannya. Seiring berjalannya waktu, kakak lelakinya itu semakin terbuka padanya. Dan … cerewet. Mengeluhkan hal-hal sederhana yang membuat Hana kesal. Menggoda Hana hingga gadis itu terkadang naik pitam.

Hana mengambil tasnya dan menyampirkannya di bahu. Dengan ponsel masih digenggam di tangan, ia melangkah ke arah pintu keluar kafe.

Tangannya hendak menekan tombol dial, ketika ponselnya kembali bergetar. Panggilan masuk mendahuluinya. Hangul Oppa terpampang dengan jelas di layar ponselnya.

Wae?” Hana mengesampingkan salam yang biasa digunakan orang untuk menjawab panggilan telepon.

“Hana-ya, ini aku ….

“Woohyun Oppa?” Dahi Hana mengernyit mendengar suara sahabat Sungyeol—yang tak asing baginya—di seberang telepon.

“Dengar, Hana ya … Sungyeol, dia kecelakaan di lokasi syuting dan cedera.

Tubuh Hana membatu di tempat. Langkahnya tertahan sebelum ia meraih pegangan pintu kafe.

Cedera?

Cedera seperti apa yang membuat Sungyeol Oppa tidak dapat meneleponku sendiri?

Cedera semacam apa yang membuat Woohyun Oppa meneleponku menggunakan ponsel Sungyeol Oppa?

“Dia di rumah sakit sekarang.”

Hana merasa tenaganya lenyap. Pikirannya kembali mengawang ke saat terakhir ia mendapati Sungyeol terluka parah dan terbaring di rumah sakit.

Woohyun menceritakan dengan singkat dan tergesa-gesa mengenai apa yang terjadi pada Sungyeol.

Hana bergidik mendengar pemaparan Woohyun. Tentang Sungyeol yang kembali bertaruh nyawa. Tentang Sungyeol yang melakukan stunt di atas motor. Tentang back flip yang memukau. Pendaratan yang gagal. Juga tentang tubuh yang terlontar lalu terseret di atas aspal.

Hana memejamkan matanya. Tangannya terkulai lemas di sisi tubuh. Bahunya bergetar. Ia bergeming dalam posisinya.

Adegan itu sering ditontonnya di film. Adegan yang selalu diputar ulang oleh Sungyeol berkali-kali. Adegan yang membuat Hana menjadi gemas sehingga harus berebut remote dengan Sungyeol agar bisa menonton kelanjutan film.

Adegan itu … dialami secara nyata oleh Sungyeol.

“Kalau kau sampai mati karena pekerjaan ini, aku takkan menangisimu …”

Hana merasa matanya panas … dan berair.

Aku tidak menangis. Hana menyangkal butiran air mata yang kini menuruni kedua belah pipinya.

Ini pasti karena jendela bus yang terbuka sehingga debu masuk ke dalam mataku. Hana mengucek matanya yang basah.

Penumpang di dalam bus memperhatikannya. Mengapa mereka melihatku seperti itu? Mereka pasti berpikir aku menangis … aku tidak menangis.

Hana menunduk, membiarkan helai-helai rambutnya menyembunyikan wajahnya. Dan … ia menangis. Terisak. Dengan air mata yang tak kunjung berhenti.

Sungyeol Oppa … kau tak boleh mati.

___

Wajah itu sangat dikenalnya dengan baik. Wajah yang menemani Hana selama empat belas tahun melewati hari lepas hari. Wajah orang yang membuatnya kesal dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.

Kedua bola mata Hana yang berkaca-kaca menatap lekat wajah Sungyeol di hadapannya. Air matanya sudah menggenang, siap ditumpahkan.

“Uljima. Bukankah kau bilang takkan menangis?”

Sungyeol meringis. Dengan lemah diangkatnya tangan kanannya. Ada bercak darah di telapak tangannya.

“Uljima …”

Dihapusnya air mata gadis yang memangku tubuh lemahnya. Sungyeol dapat merasakan tangan yang menahan tengkuknya bergetar.

Hana menitikkan air mata. Setetes yang diikuti tetesan lainnya.

“Kumohon jangan pergi meninggalkanku sendiri. Kau sudah berjanji, eoh?”

Hana menggigit bibirnya dan mencoba menahan air mata yang semakin deras.

Sungyeol tersenyum. Kedua pipi tembamnya melebar. “Aku takkan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di sisimu.”

Hana menggeleng sambil terisak. Matanya masih lekat menatap wajah Sungyeol yang mencoba tersenyum di tengah rintih kesakitan.

“Hana ya?”

Suara yang familiar memanggil namanya membuat Hana tersentak kaget. Spontan ia segera menghapus sisa air mata di wajahnya. Dilihatnya gumpalan tissue yang berceceran di atas meja. Hana menyapu semuanya dengan kedua tangannya, menjatuhkannya ke lantai dan menendangnya ke kolong sofa.

Sungyeol masuk sedetik setelahnya. “Kau di sini? Mengapa tidak menjawab waktu di panggil?”

Hana berdeham pelan. “A, aku tidak dengar kau memanggilku, Oppa.”

Dengan langkah panjang, Sungyeol dengan cepat menghampiri sofa tempat Hana duduk.

“Kau kenapa?” Sungyeol menatap Hana dengan pandangan menyelidik. Gadis yang ditatap hanya memasang wajah tanpa dosa.

Sungyeol mengalihkan pandangan ke layar televisi yang masih menyala. Ia menyengir lebar. “Ah, kau sedang menonton filmku rupanya.”

“Ha, habis tidak ada acara lain yang bagus.” Hana menyangkal karena malu. Baru kemarin yang lalu ia mengejek film yang dibintangi oleh Sungyeol. Mengatakan bahwa Sungyeol pasti berakting sangat buruk sehingga ia malas menontonnya.

Mata Sungyeol menyipit. Perlahan wajahnya mendekat ke arah Hana.

W, wae?” Hana gugup. Ia segera memalingkan wajah dan menghindari tatapan Sungyeol.

Tawa Sungyeol meledak. “Kau menangis, eoh? Kau pasti menangis karena aktingku sangat bagus kan di film itu sampai-sampai kau larut dalam ceritanya.”

Hana cemberut. Ia tak bisa menyangkal.

Sungyeol menghempaskan diri di sofa tepat di sebelah Hana. “Sekarang kau mengakui kalau aku aktor yang berbakat, eoh?

Omo! Kepercayaan dirimu itu, tak bisa dipercaya.”

Wae? Tentu saja aku harus percaya diri. Aku memang hebat.” Sungyeol masih memuji dirinya sendiri. “Ah, memangnya kau tidak tahu sekarang ini aku sudah jadi aktor terkenal?”

Ish, kalau orang sepertimu saja bisa jadi aktor terkenal, maka aku juga bisa jadi aktris Hollywood.” Hana menjulurkan lidahnya.

Jeongmal?” tanya Sungyeol dengan nada meledek.

Hana mengangkat kepalanya tinggi. “Tentu saja, itu hal yang mudah.”

Sungyeol menepuk kedua pahanya. “Baiklah, kita coba saja.”

“Coba?”

“Ayo, beradu akting denganku! Kebetulan aku butuh teman latihan untuk drama terbaruku.”

“Baiklah. Ayo, siapa takut!” sahut Hana percaya diri, “Adegan seperti apa?”

Sungyeol memberikan naskah dramanya untuk dibaca Hana. Gadis itu langsung membuka naskah dan membacanya dengan tatapan serius.

Kis, kisseu?”

Sungyeol menjulurkan kepalanya melirik naskah yang belum sempat dibacanya namun ia malah membiarkan Hana membacanya lebih dulu.

Hana menghela nafas lalu menatap Sungyeol lekat. “Oppa, demi dirimu yang tidak pernah berkencan dengan yeoja. Aku akan merelakan diri untuk menjadi teman latihanmu.”

Mata Sungyeol membulat. “Y, Yaa!”

Hana memajukan tubuhnya ke arah Sungyeol. “Ayo, Oppa, lakukan saja dan jangan ragu-ragu.”

Wajah Hana semakin dekat ke arahnya dan hal itu membuat Sungyeol tiba-tiba berkeringat dingin.

Dia … mengapa terlihat sangat manis?

Mata Sungyeol bergerak menyusuri lekuk wajah Hana dan mendarat di bibirnya.

Bibir merah mudanya terlihat sangat …

Sungyeol menelan ludahnya hingga jakunnya bergerak.

Hana menutup matanya perlahan-lahan.

Sungyeol ikut memajukan tubuhnya. Dari jarak sedekat ini ia dapat mencium aroma bunga dari cologne yang dipakai Hana.

YAAAA!!”

Sungyeol menaikkan tangannya dan mendaratkan jitakan di kepala Hana.

“Mana mungkin aku menciummu, Bocah Jelek!”

Hana membuka mata dan mengelus kepalanya. Ia cemberut mendengar Sungyeol mengatainya bocah jelek.

“Sudah, aku mau mandi.” Sungyeol beranjak bangun dari sofa dan masuk ke kamarnya untuk mengambil pakaian.

Sungyeol menatap bayangannya dalam kaca. Tangannya bergerak memegang dada sebelah kirinya yang bergemuruh. Belum pernah ia rasakan debaran secepat itu sebelumnya.

Sial. Mengapa jantungku berdebar tak karuan karena bocah itu?

Tapi …

Kalau dipikir-pikir …

Hana itu tidak memiliki hubungan darah denganku.

[END]

Advertisements

32 comments

  1. aku bisa nebak kalau Sungyeol itu stuntman saat baca yg badan dia luka2. Tapi aku ketipu…aku kira dia menggal beneran hhuuuu~
    Dan apa itu endingnya?? Omo omo o.o

    Like

  2. ah lee sungyeol.,bias utama aku di infinite.,ngebayangin dia terluka pas syuting mv the chaser trs dia lemes bgt pas syuting ranking king episode2 awal..bener2 krasa bgt di ni ff..kirain adek beneran.,eh ternyata bukan.,so sweet bgt kisahnya..

    Like

  3. Aaaaakkkk sungyeol ❤ ngebayangin sungyeol jd stuntman itu asdfghjkl bgt. Lgsg kebayang pas dy d the chaser naek motor aaaaakkkk ❤
    awalny aku pikir sungyeolnya bakal mati. Untungnya enggak. Dan adegan terakhirnya sweet :3
    nice 😀

    Like

  4. Ini beneran buatan kak lumina kah?._. Daebaaak!! Skill kaka dlm menulis FF skrg udah meningkat 🙂 mangatmangat (ง’̀⌣’́)ง

    Like

  5. bener dugaanku, stuntman kan dia. jadi ingat Secret Garden~

    rada bingung sih di bagian Hana nangis terus Sungyeol datang itu. padahal kan di kalimat sebelumnya Sungyeol nya babak belur tapi kenapa tiba-tiba dia ‘muncul lagi’.. tapi setelah baca ulang jadinya ngerti kalo itu cuma khayalan Hana.
    jadi khayalan Hana itu di mulai dari waktu Woohyun nelpon dia kan ya?

    curiga kenapa Hana suka rela jadi korban latihan kisseu nya Sungyeol.. apa dia memang suka Sungyeol lebih dari sekedar kakak atau apasih? dan kenapa Sungyeol musti berdebar bahkan sebelum ciuman itu terjadi?
    ini ff sesuatu banget lah 😉

    Like

    1. errr, itu bukan khayalan, tp dia lg nonton drama yang diperanin sungyeol.. makanya pas sungyeol dateng dia bilang kan kalau hana lagi nonton filmnya..

      kenapa ya? aku sih pas bikin cuma mikir hana itu gadis polos.. 😆 klo sungyeol, yeah, bisa dilihat sendiri dia ‘polos’.. 😆

      Like

  6. refleks langsung keinget mv the chaser! hahaha. suka sama interaksi yeol dan hana yang manis itu, kadarnya pas dan scene terakhirnya bikin… ‘oh ya ampun kenapa udah end?!’
    bawain ceritanya asik dan ringan, deskripsi tentang gimana khawatirnya Hana sama ‘kakaknya’ bener-bener sampe ke pembaca. good job!

    Like

  7. astaga, uda nyangka klo sungyeol beneran meninggal gara2 kecelakaan syuting~ tapi tnyata nggak, malah skg sungyeol uda berubah jdi aktor terkenal..
    dan itu endingnya, duhhh~ sungyeol..sungyeol..hahahaha

    Like

  8. Jadi keingetan MV the chaser daah 😀 haha
    Kereen, cerita tentang stuntmen…uhuh pekerjaan yang miris emang, dia yang cape, orang lain yang eksis -_- haha tapi ya bener juga setiap orang emang punya perannya masing-masing di film dan harus dikerjain sebaik mungkin 😀 sukaaa
    Suka juga sama idenya ngejadiin Sungyeol stuntmen, secara Sungyeol emang bagus aktingnya, tapi sekalinya main drama cuma dua episod ._. haha… yo weisss emang belum saatnya kali ya, ketampanan dia mungkin belum cukup, haha, padahal udah ganteng gitu boooo…
    Dan…endingnya…udah shock aja kalo Sungyeol the end di cerita ini, ternyata engga ya? huhu ngeyel sih, mana adegannya salto saltoan lagi, jatuh dan keseret pula… Astagah!!! hehe…
    Ah, jadi ada semi incest gini ya :p gak deng, kan mereka belom ngapangapain dan belom tau kenepannya gimana, haha XD namanya juga pria dan wanita… naluri itu mah waaak 😀
    Syuuuukaaaa

    Like

  9. Udah ngedesak-desak pengen nangis pas nyampe tengah, deskripsi tentang stuntman dan juga semua luka yang di dapet Sungyeol. kekhawatiran Hana, mimpi Sungyeol, sedihnya kerasaa sekali. Tak pikir bakal mati nah, haha. Suka sekali dengan setiap narasinya, juga diksi yang beneran narik emosi. Dan, apa itu bagian teakhirnya? huahaha, tetep jadi saudara saja lah, kerasa lebih romantis :D.

    Like

  10. Kak Lumie,
    jadi sungyeolnya kecelakaan, trus sembuh, terus maen film jadi aktor utama, gtu?
    aku agak bingung pas tautau muncul percakapan, *mentang-mentang puasa, otak aku lemot, he

    tapi beneran deh deskripsi yg adegan awal itu keren banget. beneran kebayang.
    mana sedih pula, khawatirnya hana itu aku dapet. tapitapi seneng berakhir happy 🙂

    sip! semangat yaa..

    Like

  11. wah, kirain tadi sungyeol beneran die,.
    eh, ternyata hana lagi nonton film sungyeol dgn sungyeol jadi aktor utamanya,..
    hihi,..
    kasian hananya kl beneran sisungyeol ninggal, bnr2 sebatang kara,..
    scene terakhirnya si sungyeol jd tergoda am hana ya,..
    cie2 kenama aj baru nyadar sekarang,.. /plak/
    nice ff,.
    d’tgg karya lainnya,.
    fighthing,.. 🙂

    Like

  12. hayoloh hayoloh hayoloh aaaa >< suka bagian endingnya ;;_;; mereka ga puny hubungan darah apa salahnya kalo jadian eyak eyak eyak xD salah tebak lagi-lagi, nice fanfic, keep writing thor '-')9

    Like

  13. Aku expectnya Sungyeol bakal meninggal karena kecelakaannya itu ._. hahaha 😀 tapi sayangnya nggak~ keren sih idenya. Dan aku yakin sebelumnya penulis harus riset ttg stuntman, jd bener-bener niat gitu bikinnya. hehehe . another nice one. ^^

    Like

  14. Wuah daebak, kirain uri yeoll mati, syukurlah ga. Sambil baca nih ff langsung keingat ma yeoll oppa di the chaser. Yeoll juga akhirnya jadi aktor.

    Author request ff cast yeoll oppa lagi dong

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s